POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

(KOLOM BUNG KOMAR) APAKAH MEREKA JUGA….?????

By 18 Feb 2016 11:58Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: Bungko Komar
Date :: Sel 06/07/2011 @ 04:01
Suatu negeri sedang berkembang di kawasan Asian Tenggara sedang menghadapi suatu masalah besar. Sumber masalah itu sendiri sudah ada beratus-ratus tahun. Namun para petinggi negeri masih menganggapnya sebagai masalah kecil dan sepele jika dibandingkan begitu banyak masalah yang harus lebih diprioritaskan.

Sekarang persoalan kecil itu semakin membesar, semakin menumpuk, menggumpal bagaikan kawah api yang siap meledak. Persoalan itu adalah, ”TIKUS”.

Tikus berkembang biak dengan sangat luar biasa karena iklimnya memang memungkinkan mereka berkembang dengan aman. Mereka sekarang tidak hanya bermain di sekitar dapur, sawah, tumpukan sampah dan pasar-pasar tradisional, tetapi telah memperluas wilayah operasinya hingga ke pemukiman elite, super market, gudang bahan pangan, Industri makanan, bahkan telah berani masuk ke istana negeri tanpa tercium oleh para pengawal istana. Entah sudah berapa juta ton konsumsi yang sedianya diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia habis dilahapnya. Tidak terhitung berapa banyak kerugian negeri oleh ulah si kotor hitam itu.

Gerombolan tikus semakin lama semakin cerdik. Mereka tidak lagi takut pada kucing karena merasa derajat mereka sama saja, sama-sama pencuri. Bahkan kalau perlu mereka berkolaborasi walaupun pada akhirnya berselisih soal hasil curian.

Gerombolan tikus senantiasa belajar dari pengalaman. Mereka sudah sangat mengenal berbagai model perangkap tikus untuk tidak selalu terjebak. Mereka juga sangat hafal dengan aroma racun-racun tikus dan lem-lem tikus sehingga bisa membedakan mana curian yang aman dan mana yang bisa mematikan. Kalaupun ada yang terperangkap, itu hanyalah tikus-tikus kelas rendahan yang tidak perlu membuat gusar gerombolan tikus lainnya. Bagi tikus tidak berlaku hukum efek jera. Bagi tikus berlaku slogan yang lebih heroik, ”Mati satu, hidup seribu. Terperangkap satu, menjadi pengalaman bagi seribu tikus lainnya”.

Penguasa negeri telah mengambil sikap tegas untuk membasmi tikus dari yang paling besar hingga yang paling kecil, bahkan yang baru lahir dan masih berwarna merah pun harus dibasmi. Hanya kementerian kesehatan dan lembaga-lembaga riset yang keberatan. Bagi mereka keberadaan tikus masdih diperlukan sebagai obyek percobaan temuan-temuan riset. Namun kali ini penguasa negeri pengabaikan keberatan tersebut. Gerakan pembasmian tikus harus dilaksanakan sekarang, jika tidak mereka yang akan terus membasmi kehidupan negeri ini.

Penguasa negeri segera mengumumkan maklumat dan mengundang para cerdik pandai untuk memberikan gagasan dan pemikiran untuk melaksanakan gerakan pembasmian ini. Beribu-ribu proposal masuk. Ada usulan yang hanya bersifat parsial, ada juga usulan yang tidak memperhitungkan keselamatan mahluk lainnya, ada pula usulan yang biayanya tidak masuk akal, bahkan ada yang mengusulkan penggunaan teknologi nuklir. Akhirnya setelah melalui penilaian yang seksama dan ketat, ternyata hanya ada satu proposal yang agak rasional untuk dipresentasikan dihadapan penguasa dalam sidang agung terbuka untuk umum.

Walaupun telah berusia 70 tahun, mantan Panglima Perang itu cukup energik memaparkan proposalnya. ”Pemberantasan tikus secara massal dan total jangan hanya menjadi beban penguasa negeri. Seluruh rakyat harus dilibatkan tanpa terkecuali karena seluruh rakyat merasakan akibat kerusakan yang diakibatkan oleh ulah tikus.”

”Langsung pada intinya..!” perintah pengawal utama negeri.

”Siapppp….! Maklumatkan kepada seluruh penduduk negeri ini untuk terlibat secara langsung dalam gerakan pemberantasan tikus selama 5 hari berturut-turut. Setiap penduduk negeri diwajibkan melakukan perburuan terhadap semua jenis tikus yang hidup dan berkembang di negeri ini. Agar tidak membebani rakyat dengan tanggungjawab tersebut, maka kepada rakyat yang berhasil menangkap dalam keadaan hidup maupun mati seekor tikus, akan mendapatkan konpensasi Rp. 5.000,- dari pemerintahan negeri. Jika 350 juta penduduk negeri ini serentak bergerak, maka kalau saja satu orang berhasil menangkap 10 tikus, itu berarti kita berhasil membasmi 3,5 milyar tikus. Jika penduduk bergerak simultan selama 5 hari, berarti kita dapat membasmi 17,5 milyar tikus.

”Dan cost yang harus disediakan adalah……..” penguasa negeri menggaruk-garuk kepala kemudian bertanya kepada salah seorang menteri di sampingnya, ”apakah sebanyak itu tikus di negeri ini ?”

”Entahlah Tuan. Sampai sekarang belum ada sensus tikus, tetapi tikus memang ada di mana-mana.”

”Kemiskinan belum sepenuh dapat kita atasi, dan sekarang dana operasional negeri ini akan kita kuras habis hanya untuk suatu populasi yang bernama, TIKUS,” kata penguasa negeri yang sepertinya sulit mengambil keputusan.

Tiba-tiba seorang pengembala kerbau menyeruak ke depan dan mengacungkan tangannya, ”mohon izin berbicara..!” Para menteri dan pengawal negeri mendelik ke arah pengembala kemudian melirik kepada penguasa negeri sepertinya meminta izin untuk mengusir gembala itu.

”Biarkan dia berbicara. Orang kecil biasanya memiliki gagasan yang lebih murni karena tidak diiringi oleh kepentingan apa-apa,” kata penguasa negeri mempersilahkan pengembala menyampaikan maksudnya.

”Saya pengembala sapi di sekitar istana. Tiap sore saya bunyikan seruling warisan ini untuk mengusir gundah gulana. Hanya saja seisi istana tidak pernah mengetahuinya karena saya bukanlah orang yang cukup penting untuk diketahui. Seruling ini cukup sakti dan hanya bertuah jika saya yang meniupnya.

”Apakah yang akan kau lakukan dengan seruling itu ?” bentak seorang pengawal negeri.

”jika bunyi seruling yang saya tiupkan terdengar oleh tikus, maka tikus-tikus yang bersembunyi di bawah tanah sekalipun akan keluar mencari sumber bunyinya. Selanjutnya akan saya giring tikus-tikus tersebut ke pantai dan menenggelamkannya di lautan.

”Apa yang kau harapkan sebagai imbalan kerjamu?”

”Tidak perlu ada cost yang keluar. Cukup sediakan perahu di pantai.”

Dari gerbang istana, seruling telah dibunyikan sebagai tanda bahwa perburuan tikus sudah dimulai. Tak terhitung berapa tikus yang telah berkumpul dan berbaris. Peniup seruling mulai melangkah dan dari belakang tikus-tikus mengikutinya. Setiap kali memasuki wilayah baru barisan tikus semakin bertambah dan bertambah bagaikan sebuah karnaval terpanjang di dunia. Peniup seruling tiba di pantai dan sebuah perahu telah siap mengantarnya. Perahu melaju ke tengah laut. Seruling terus berbunyi sementara tikus-tikus mati tenggelam.

Tiba-tiba dari belakang terdengar teriakan riuh berkepanjangan. Peniup seruling kaget dan penghentikan tiupannya. Ia menengok ke belakang, dan ”Astaga” hampir semua petinggi negeri dan para pengawal negeri ikut dalam barisan tikus dan nyaris tenggelam semua.

Di atas perahu si peniup seruling duduk tercengang. ”Mengapa mereka ada diantara barisan tikus-tikus ? Apakah mereka juga…………..??????

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

(KOLOM BUNG KOMAR) APAKAH MEREKA JUGA....?????