POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

Orang Biasa Dalam Kehidupan Pak Harto

By 18 Feb 2016 11:59Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: Bungko Dewa
Date :: Sel 06/14/2011 @ 10:46
Buku “Pak Harto, The Untold Story” telah diluncurkan pada 8 Juni 2011 lalu, bertepatan tanggal kelahiran mantan Presiden Soeharto, 90 tahun yang lalu. Banyak ceritera sukses dan ceritera miris tentang kepemimpinan Soeharo selama 32 tahun berkuasa. Setiap orang melukiskan tentang beliau sepanjang yang mereka ketahui dari sudut pandang mereka sendiri. Tokoh-tokoh sejarah memang selalu memiliki banyak dimensi untuk diulas, tetapi kisah-kisah dalam buku “Pak Harto The Untold Story” menampilkan sisi lain dari keseharian Pak Harto yang mungkin luput dari amatan para jurnalis dan penulis-penulis biografi beliau.

Salah satunya sketsa hidup seorang biasa yang bernama Munari Ari. Ia bukan menteri, ajudan atau orang dekat Presiden RI kedua Soeharto. Tahun 1980-an ia hanyalah seorang seniman jalanan alias pengamen. Kawasan operasinya mulai perempatan Megaria hingga depan kampus Universitas Indonesia di Salemba. Dan jika malam tiba, ia kerap menumpang tidur di depan kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

 Saat-saat ia sedang memainkan gitarnya, menyanyikan dua atau tiga lagu untuk mendapatkan kumpulan recehan dari mereka yang mendengar dan peduli, Munari Ari kerap terpaksa harus menghentikan petikan gitarnya ketika iringan mobil mewah melintasi jalan dimana ia mencari nafkah. Manuari Ari hafal betul kalau iringan-iringan mobil yang membuatnya takjub tersebut akan melintas setiap hari Rabu dan Jumat pada jam yang sama. Iringan mobil yang dikawal pasukan pengamanan Presiden ini membawa Pak Harto ke lapangan golf Rawamangun. Biasanya sebelum matahari terbenam, rombongan kembali melintas pulang.

 Bukan sekali dua kali Ari dan sahabatnya Herman Obos mencoba nekat mendekat ke bibir jalan untuk melihat rombongan lebih jelas. Namun pengamanan sangat ketat. Ia kerap diusir, bahkan pernah nyaris ditempeleng.

 Pada hari Jumat di pertengahan 1986, Ari dan Obos, berhasil lolos dari pantauan aparat. Di seberang Restoran Sasa kawasan Salemba, mereka berdua berbaris tegak rapat sejajar. Masih memegang gitar dan biola, dengan sikap sempurna begitu mobil Pak Harto melintas, mereka mengangkat tangan untuk memberi hormat.

 ‘Upacara’ tanpa bendera ini rutin dilakukannya setiap kali rombongan Presiden melintas. Setelah sebulan berlalu, Ari dan Obos merasa setiap kali lewat depan RSCM, rombongan mobil Presiden berjalan lebih lambat. Bulan berikutnya, terjadi hal yang tidak terduga. Saat Ari dan Obos melangsungkan acara penghormatan rutin, mobil dengan plat RI 1 berjalan makin pelan dan bahkan mendekat.

 

Sejurus kemudian tepat di depan mereka, kaca hitam jendela belakang mobil diturunkan perlahan dan muncullah senyuman khas Soeharto. “Seketika itu juga, saya dan Obos memberi hormat dan berseru, ‘Selamat siang, Paaaak!’.”

 

 Pak Harto seperti biasa tersenyum dan mengangguk. Sejak kejadian itu, polisi tidak pernah lagi mengusir Ari dan Obos yang makin giat menghormat setiap rombongan lewat.

 

Dan, siapa mengira kegiatan nekat dua remaja ini mengubah hidup mereka kelak. Terkesan dengan aksi dua pengamen ini, Pak Harto pun mengutus putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut mencari dua remaja itu. Bukan main senangnya Ari dan Obos saat itu. Mereka diajak ke Cendana, bahkan ikut menyumbangkan dua lagu di hari ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Bu Tien.

 

 Dia juga dikontrakkan rumah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Sandang pangan tercukupi. Sampai akhirnya ia merasa tidak bisa hanya menerima uluran tangan terus. Ia pun melamar kerja di salah satu perusahaan milik Tutut. Namun tahun 2000 ia memutuskan keluar. Kini Ari sukses menjalankan usaha biro jasa miliknya sendiri.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Orang Biasa Dalam Kehidupan Pak Harto