POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

“DEMAGOG”, “PROVOKATOR”, dan “MOTIVATOR”?

By 02 Aug 2016 14:36Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: Andi Yayath Pangerang :: 02/07/2016

Ada kesalahpahaman orang dalam memaknai kata-kata ini. Pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita kalau mendengar kata “provokator” dan “motivator”. Provokator dan motivator itu sendiri hampir sama pengertian dan aplikasinya. Sedangkan kata “demagog” sendiri jarang terdengar, bahkan jarang dijadikan bahan pembicaraan secara populer.

Provokator dalam kamus besar Indonesia adalah sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut dan pancingan. Itu berarti bahwa provokator adalah pembangkit kemarahan, penghasut, dan pemancing. Kata provokator sendiri identik dengan hal-hal yang negatif, meski sebenarnya pandangan/persepsi seperti itu kurang obyektif.

Mengapa demikian? Karena tidak semua provakator itu berhubungan dengan hal yang anarkis, melainkan juga ada yang terkait dengan hal yang bersifat positif. Artinya, ada banyak juga provokator yang menjadi motivator dalam kegiatan/tujuan yang positif, dimana hasil akhirnya yang harus menjadi penilaian. Sebab provokasi yang dikeluarkan oleh provokator hanyalah suatu “pemicu/pemancing” sehingga melahirkan suatu reaksi.

Sementara itu, motivator adalah orang yang memberikan dorongan atau penggerak untuk memotivasi orang lain melakukan sesuatu hal. Hampir sama pengertiannya dengan provokator, akan tetapi motivator lebih identik dengan hal yang berbau positif, meski implementasinya kadang tidak seperti teorinya.

Yang jelas, adalah benar jika setiap tindakan yang dilakukan selalu berawal dari motivasi, dimana setiap individu dapat mengelola motivasi (niat) dan kemudian mengembangkan serta menerapkan ke dalam tindakan yang bisa jadi positif, tetapi juga bisa juga menjadi negatif.

Bukankah memprovokasi atau memotivasi seseorang untuk mempertahankan hak dan harga dirinya, adalah hal yang mulia dan positif bagi orang yang tertindak dan terzalimi? Tetapi, itu menjadi negatif bagi yang menzalimi atau melakukan penindasan, ataukah akibat reaksi itu menimbulkan chaos dan merugikan mereka yang tidak terkait atau tidak berdosa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata provokasi ini cenderung bermakna negatif yaitu memanasi situasi supaya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Padahal arti provokasi ini memiliki dua sisi makna, yaitu negatif atau positif yang tergantung pada penempatannya. Contoh kalimat dari Bahasa Inggris sebagai bahasa asalnya, “His jokes provoked a lot of laughter from audiences” yang berarti leluconnya menimbulkan gelak tawa dari para penonton. Bung Karno juga berpidato di hadapan ribuan orang dengan berapi-api beliau memotivasi sambil memprovokasi yang hadir dengan tantangan untuk kebaikan-kebaikan perjuangan dan perubahan.

Lalu apa sebenarnya arti kata “demagog” itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerjemahkan demagog sebagai penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan. Demagog adalah istilah politik yang berasal dari dari bahasa Yunani “demos” yang bermakna rakyat dan “agogos” yang bermakna pimpinan dalam arti negatif. Yaitu pemimpin yang menyesatkan demi kepentingan pribadinya.

Dari pengertian lain, juga dikumpulkan oleh pendapat ahli lainnya. Haryatmoko, seorang Pengajar Program Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia dalam tulisannya di Kompas berjudul “Demagogi dan Komunikasi Politik” menyatakan sebagai berikut: “Politikus cenderung demagog. Ia bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang paling membingungkan dengan menampilkan wajah sebanyak kategori sosial rakyatnya. Ia bisa menunjukkan berbagai peran sehingga membuat tindakannya efektif di dalam situasi yang beragam.”

Menurutnya, seorang demagog akan meyakinkan kepada pendengarnya bahwa ia berpikir dan merasakan seperti mereka. Ia tidak akan menegaskan pendapat pribadinya, tetapi pernyataannya mengalir bersama dengan pendapat pendengarnya.” Maka, demagogi mengandalkan kelenturan wacana. Kelenturan ini dibangun melalui khazanah politik yang ambigu, supaya kata yang sama bisa ditafsirkan sesuai dengan harapan pendengarnya.

Tak hanya itu, Mahfud MD juga pernah menuliskan pengertian Demagog di Majalah Gatra tahun 2007 silam dan diposting kembali melalui laman pribadinya berjudul Dominasi Kaum Demagog. Ia menulis: “Demagog adalah agitator-penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih tapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat; bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

Demagog sebenarnya dapat dikenali karena mekanismenya yang khas. Haryatmoko, dalam Etika Politik dan Kekuasaan (Jakarta: Kompas, 2003) juga telah menulis bahwa demagogi sangat efektif untuk menggalang dukungan politik dari khalayak karena demagogi mempunyai mekanisme yang khas, antara lain:

(1) Seorang demagog selalu mencari kambing hitam atas segala masalah, sehingga kebencian terhadap suatu kelompok tertentu ditumbuhkan, dipelihara bahkan diperdahsyat identitasnya;

(2) Argumen yang menjadi senjata dalam demagog biasanya ad hominem (menyerang pribadi orang) dan argumen kepemilikan kelas yang penuh kebencian;

(3) Seorang demagog lihai membuat skematisasi dengan menyederhanakan gagasan atau pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial sehingga menjadi sebuah opini dan keyakinan. Demagogi inilah yang kemudian memunculkan wacana kebencian terhadap pihak-pihak tertentu.

Dari pengertian diatas, maka silahkan mencari tahu sendiri siapa sebenarnya yang menjadi demagog di tengah kita? Ataukah kita salah menilai seeorang, apakah dia seorang provokator, motivator ataukah malahan demagog?

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

“DEMAGOG”, “PROVOKATOR”, dan “MOTIVATOR”?