POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

Pelatihan Literasi Media Sosial, Program Bela Negara Generasi Milenial

By 08 Dec 2018 Berita
WhatsApp_Image_2018-12-08_at_10.39.28

Polhukam, Sumedang – Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara perlu dirumuskan kembali agar programnya sesuai dengan konteks kekinian. Oleh karena itu, pelatihan literasi media sosial bagi generasi milenial dinilai relevan dan tepat.

Demikian pernyataan Asisten Deputi Koordinasi Kesadaran Bela Negara, Brigjen TNI Rufbin Marpaung dalam Pelatihan Literasi Media Sosial Generasi Milenial Anti Hoax Dalam Upaya Bela Negara di Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (8/12/2018).

“Program Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara perlu kita rumuskan kembali agar programnya sesuai dengan konteks kekinian dan tidak terkesan militeristik. Oleh karena itu, momentum pelatihan literasi media sosial ini sangat tepat dan relevan, terutama di tengah upaya segenap komponen bangsa dalam membangun bangsa yang berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya dalam identitas Kebhinekaan Indonesia,” kata Rufbin.

Menurut Rufbin, saat ini ancaman bangsa Indonesia sudah berubah dari yang bersifat hard ke yang soft, dari ancaman terhadap teritori atau geografis menjadi ancaman yang tidak terlihat atau multidimensi. Dikatakan, dari beberapa ancaman bangsa seperti terorisme, radikalisme, narkoba, separatisme, pornografi, kegiatan illegal, serangan siber, dan sebagainya, hampir semuanya bertujuan untuk pelemahan Modal Manusia.

“Saat ini Modal Manusia kita dilemahkan oleh berita-berita hoax dan adudomba, perilaku intoleransi dan fundamentalisme. Tujuannya tidak lain agar bangsa ini selalu curiga, pesimistis, koruptif dan seterusnya, sehingga bangsa kita menjadi lemah dan mudah untuk dikuasai,” kata Rufbin.

Dengan demikian, tidak heran jika isu-isu degradasi wawasan kebangsaan yang saat ini sedang ramai dibicarakan, merupakan hasil dari serangan-serangan yang bertujuan untuk pelemahan-pelemahan human capital bangsa Indonesia.

“Jadi tidak heran juga pelemahan human capital ini berdampak kepada munculnya berbagai tantangan bangsa seperti pemahaman dan penghayatan terhadap Empat Konsensus Dasar Negara masih rendah, rasa memiliki terhadap Bangsa dan Negara masih lemah, sebagian generasi muda cenderung terpengaruh gaya hidup hedonisme, individualistik, dan materialisme, serta pembelaan negara belum optimal, ” kata Rufbin.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menciptakan suasana serba bela negara. Khusus program wawasan kebangsaan dan bela negara untuk mahasiswa, pemerintah berharap dalam waktu dekat sudah tersedia program wawasan kebangsaan dan bela negara yang terintegrasi dengan program-program soft dan life skills yang telah dilakukan saat ini.

Sementara itu, Pendiri Sunan Institute H. Taufiq Gunawansyah menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas kesempatannya untuk bisa berpartisipasi melakukan kegiatan yang sangat penting ini. Karena menurutnya, pelatihan literasi media sosial ini sebagai upaya bangsa untuk melawan bahaya yang mengancam eksistensi bangsa yaitu melawan hoax.

“Sunan Institut adalah lembaga yang saya bikin yang concern terhadap kajian strategis, baik skala nasional maupun lokal dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat dan partisipasi dalam pembangunan termasuk upaya pengembangan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Dan hari ini Sunan Institut mampu mengakses peluang menjadi bagian penting dalam memerangi hoax,” katanya.

Ia mengibaratkan bahwa kemajuan teknologi saat ini seperti aliran darah yang akan cepat tersebar. Namun, hadir hoax yang merupakan virus dan dapat merusak tubuh.

“Ini yang dirasakan saat ini karena kepolisian dibuat repot. Lebih menggelisahkan lagi fenomena hoax ini jadi racun luar biasa bagi generasi milenial,” kata Taufiq.

Taufiq mengatakan, ada dua cara melawan hoax yaitu masuk dalam upaya rekayasa alat, instrumen, dan media. Tapi juga harus melakukan rekayasa-rekayasa konten, isi, dan pesan-pesannya.

“Ini jadi bagian besar strategi melawan hoax untuk mengatasi ekses negatif dari kemajuan teknologi,” kata Taufiq.

Kepala Kesbangpol Kabupaten Sumedang, Rohayah Atung berharap dengan adanya pelatihan literasi media sosial ini para generasi muda di Sumedang bisa memahami ancaman yang dapat memecah belah persatuan melalui bela negara.

“Literasi media ini merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis dan komunikasi informasi melalui media sosial. Ini dipandang relevan dengan konteks kekinian karena penyebarannya sangat mudah. Melalui pelatihan ini diharapkan agar generasi muda di Sumedang bisa paham dan dapat memberikan proses penyadaran kepada masyarakat sehingga berdampak pada kondisi yang kondusif, aman dan nyaman,” kata Rohayah.

Pelatihan literasi media sosial ini diikuti oleh kurang lebih 150 peserta yang terdiri dari anggota Purna Paskibraka Indonesia, mahasiswa dan pelajar serta beberapa OKP di Kabupaten Sumedang. Dalam kegiatan ini, para peserta diberi pemahaman mengenai urgensi media sosial, identifikasi hoax dan cara memeranginya, serta simulasi konten.

Hadir dalam kegiatan ini Kaban Kesbangpol Kab. Sumedang, Rohaya Atung yang mewakili Bapak Bupati dan sekaligus membuka acara tersebut, Ketua PPI Kabupaten Sumedang Setianur Komara, Pendiri Sunan Institute H. Taufiq Gunawansyah, Ketua Tim Media Menko Polhukam M. Fariza Y Irawady, Kepala Bidang Bela Negara Lingkungan Kerja dan Pendidikan pada Asdep Koordinasi Kesadaran Bela Negara Kemenko Polhukam Kolonel Eko Budi Setiyo, serta para anggota PPI, mahasiswa dan pelajar di Kabupaten Sumedang.

Biro Hukum, Persidangan dan Hubungan Kelembagaan
Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan

Kirim Komentar/Pertanyaan

Pelatihan Literasi Media Sosial, Program Bela Negara Generasi Milenial