Menko PolhukamBerita

Kisah Menko Polhukam Saat Jadi Santri Digembleng Jaga Integritas

Dibaca: 7 Oleh Wednesday, 23 November 2022Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2022 11 22 at 4.28.55 PM
#KemenkoPolhukam 

SIARAN PERS NO. 190/SP/HM.01.02/POLHUKAM/11/2022

Saat menjadi santri di tahun 1968,Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mendapat gemblengan khusus dari guru-nya, Kyai Mardliyyan yang juga pendiri Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Waru, Pamekasan Madura, Jawa Timur.

Hal ini dikisahkan Mahfud MD saat silaturrahmi bersama pimpinan pesantren, santri dan para alumni Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Selasa, (22/11/2022).

Dalam acara silaturrahmi tersebut, Mahfud berkisah masa-masa kecil di pesantren. Mahfud mengaku mendapat perhatian khusus dari pimpinan pesantren kala itu, agar kelak kalau sudah ‘jadi orang’ selalu jaga integritas, tidak serakah dan tidak memakan hak orang lain.

“Yang paling berkesan disini, dulu saat saya mondok, setiap pagi saya selalu diajak sarapan sama Kyai Mardliyyan, terus saya disuruh makan, terus suruh nambah lagi sampai perut terasa kenyang banget. Kyai bilang: ayo makan, tambah lagi, saya jawab; sudah Kyai, sudah kenyang. Lalu Kyai Mardliyyan bilang; manusia itu butuhnya cuma segitu. Suatu saat nanti kalau kamu jadi orang, jangan serakah. Orang mau numpuk harta seberapa banyak, butuhnya cuma segitu,” kisah Mahfud menceritakan pendidikan moral dari Kyai Mardliyyan.

Mahfud mengaku, pendidikan moral dari Kyai Mardliyyan ini masih ia pegang teguh saat dirinya mulai mendapat amanah di pemerintahan bersama Presiden Gus Dur, hingga saat ini menjabat Menko Polhukam RI di era Presiden Joko Widodo.

“Itulah pelajaran moral dari Kyai Mardliyyan dan hingga saat ini masih saya pegang teguh,” tambah Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Pada tahun 1968, Mahfud kecil menghabiskan waktu kanak-kanaknya di Pondok Pesantren, di sebuah panggung kecil sederhana yang terbuat dari kayu.

“Disini saya belajar ngaji, belajar Safina (Kitab Safinatun Najah: red), belajar Sullam (Kitab Sullamut Taufiq: red) dan lain sebagainya,” ujar Mahfud lanjut berkisah.

Dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Al Mardliyyah ini, Mahfud bernostalgia, mengelilingi pondok, melihat ruangan yang dulu di tempatinya, termasuk bekas dapur yang dulu biasa digunakan para santri biasa memasak pakai tungku.

Dihadapan Santri dan Alumni Pondok Pesantren Al Mardliyyah, Mahfud mengingatkan agar santri selalu menjaga marwah pesantren. Tidak tamak dan serakah, saat diberi kepercayaan mengemban amanah.

“Jangan tamak dan jangan serakah. Jangan makan barang haram, karena akan menjadi penyakit bagi diri kita, hidup tidak tenang, mimpinya jelek terus. Ada pemadam kebakaran lewat takut, dikira KPK,” ujar Mahfud sembari bercanda dan disambut tepuk tangan para undangan yang hadir. (*)

Terkait

Kirim Tanggapan