POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

Kita Versus Korupsi

By 18 Feb 2016 13:33Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: Bung Komar
Date :: Jumat 01/27/2012 @ 01:55
Bangsa ini sepertinya kehabisan akal untuk melawan dan memberantas korupsi. Jangankan untuk membasmi hingga ke akar-akarnya, permukaannya sekalipun belum mampu kita kupas habis. Korupsi ada dimana-mana dan selalu di hadapan kita. Kita tidak perlu mencari sumber-sumber korupsi karena peluang-peluangnya selalu datang menggoda kita. Korupsi datang dengan tawaran kekayaan dan kenikmatan hidup yang pasti, sementara kejujuran belum mendapatkan kehormatan yang layak baik oleh negara maupun masyarakat. Kejujuran sementara ini masih merupakan kebanggaan pribadi orang-orang tertentu.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan berbagai cara dan telah menerapkan jurus-jurus yang ada padanya. Telah banyak yang dilumpuhkan tetapi bilangan musuh yang tersisa tidak dapat terhitung. KPK menjadi pendekar tunggal di rimba persilatan korupsi. KPK tidak hanya menghadapi musuh-musuh yang jelas, tetapi juga kemungkinan serangan dari teman seperguruannya. KPK sangat membutuhkan dukungan dari pendekar-pendekar lain, dan itu adalah kita. Kita semua yang masih peduli dan mau menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.

Itulah sepertinya misi yang diemban oleh film berjudul, ”Kita Versus Korupsi” yang diproduseri bersama oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), USAID, dan Transparansi Indonesia. Film K vs K ini diputar secara perdana di gedung bioskop XXI Djakarta Theater, 26 Januari 2012. Film ini dibintangi oleh Nicholas Saputra, Ringgo Agus Rahman, Tora Sudiro, Revalina S. Temat, dan lain-lain.

 

Film K vs K terdiri dari empat fragmen yang setiap fragmen disutradarai oleh sutradara yang berbeda. Pada fragmen pertama menceriterakan bagaimana seorang kepala desa terjerat oleh pengusaha yang telah membantunya terpilih sebagai kepala desa. Kepala desa akhirnya harus mengingkari janji-janji [politiknya untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat, bahkan sang Kepala Desa dengan tega harus menggusur warganya sendiri termasuk kekasihnya demi untuk pengembangan kawasan yang dilakukan oleh pengusaha.

Pada fragmen kedua menceriterakan bagaimana orang-orang yang menggampangkan suatu urusan dengan menyogok orang dalam sehingga tidak perlu memenuhi persyaratan administrasi yang disyaratkan. Kemudian pada fragmen ketiga diperlihatkan bagaimana mirisnya kehidupan keluarga seorang karyawan swasta yang jujur (Tora Sudiro) di tengah-tengah rekan kerjanya yang korup. Dan Pada fragmen terakhir ditampilkan bagaimana perilaku korupsi juga telah masuk ke lembaga pendidikan melalui praktek penjualan buku pelajaran oleh guru yang dibantu oleh siswa.

 

Terlepas dari persoalan apakah film ini akan dapat mengubah perilaku korupsi dan atau dapat mendorong masyarakat  untuk bersama-sama memerangi korupsi, satu hal yang menggembirakan bahwa industri film nasional sudah mau mengangkat tema korupsi dalam produksi film nasional. Menurut Teten Masduki dalam kata sambutannya sebelum pemutaran perdana film ini, dengan tegas mengritik industri perfilman yang hampir tidak pernah menampilkan persoalan korupsi, padahal persoalan tersebut sudah cukup terlihat jelas dalam keseharian.

Kita semua tentu berharap masyarakat yang menonton film ini akan terinspirasi untuk tetap teguh berprilaku jujur dan bersedia melakukan sesuatu untuk melawan korupsi. Sayangnya film ini tidak menampilkan bagian-bagian dimana koruptor mendapatkan sanksi hukum ataupun sanksi sosial karena perbuatan korupnya. Film ini juga tidak menunjukkan bagian dimana mereka yang berprilaku jujur akan mendapatkan kebahagian dan ketenangan hidup. Kita berharap film-film bertema anti korupsi dapat menggali lebih dalam lagi persoalan-persoalan ini sehingga lebih mengena dalam menciptakan kultur kejujuran dalam masyarakat Indonesia. (Bung Komar)

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Kita Versus Korupsi