Menko Polhukam

Surono Reksodimedjo

Oleh 19 Mar 1983 Mei 15th, 2019 No Comments
#KemenkoPolhukam 

Banyumas, Jawa Tengah, 6 September 1923
MULO
SMA
Sekolah Tinggi Olah Raga
Kodokan Yudo Institute, Tokyo
Seskoad, Bandung
War College, Jerman Barat, The American Command and General Staff
College, Forth Leavenworth, AS (1958)

Dankie II Yon I, Cilacap (1945)
Danyon IV, Cilacapp (1949)
Danyon 402 Cilacap (1951)
Perwira di Teritorium III, Jakarta (1952-1953)
Kas Resimen Infantri 14 Jakarta (1953)
Kas Resimen 15, Jakarta (1955)
Hakim Perwira Pengadilan Tentara, Yogyakarta (1957)
Dan GBN Teritorium IV (1957)
Dosen SSKD II, Bandung (1958)
Direktur Akademi Tehnik Angkatan Darat, Bandung (1959)
Wakil Gubernur Militer AMN, Magelang (1961)
Kas Kodam Diponegoro, Semarang (1961)
Gubernur AMN, Magelang (1964-1966)
Deputy I Operasi Menpangad (1966)
Pangdam Diponegoro (1966)
Pangkowilhan II Jawa Madura (1969-1973) KSAD (1973-1974)
Wapangab (1978)
Menko Kesra (1978-1983)
Menko Polkam (1983-kini)

Jalan Teuku Umar 5 Jakarta Pusat Telp: 348236
Jalan Merdeka Barat 15, Jakarta Pusat Jenderal purnawirawan ini
memulai dinas militernya di zaman Jepang, sebagai anggota Peta. Pecah
Revolusi Kemerdekaan, ia langsung menjadi komandan kompi, kemudian
komandan batalyon. Dalam usia 28 tahun, Surono menjabat asisten KSAD.
Pada 1983, ia menjadi menteri koordinator bidang politik dan keamanan
(menko polkam), menggantikan M. Panggabean.
Perawakannya yang atletis ditunjang oleh kebiasaannya berlatih judo.
Penggemar olah raga sejak remaja, tamat SMA ia melanjutkan pendidikan
ke Sekolah Tinggi Olah Raga (STO). Malah, ia pernah mengikuti Institut
Yudo Kodoka di Tokyo, Jepang. Kemudian, ”Karier militer mengantarkan
saya masuk ke SSKAD di Bandung,” tuturnya. Hakim perwira untuk
Yogyakarta, Semarang, dan Pekalongan ini berangkat ke Amerika Serikat,
mengikuti Command and General Staff College, 1957.
Setahun kemudian, kembali di tanah air, ia mengajar di SSKAD II.
Setelah sempat menjadi Direktur Akademi Teknik AD, ia dipindahkan ke
Magelang, Jawa Tengah. Di kota ini, Surono Wakil Gubernur, lalu
Gubernur, Adademi Militer Nasional (AMN), hingga 1966.
Namanya mencuat tatkala menjabat Pangdam VII/Diponegoro. Bersama H.R.
Dharsono dari Siliwangi, Sarwo Eddie dari RPKAD, dan Kemal Idris dari
Kostrad, ia berperan dalam forum rapat panglima se-Jawa, yang saat itu
merupakan ”senjata ampuh” menghadapi Orde Lama. Tokoh yang pernah
dinilai oleh sementara pengamat asing sebagai teknokrat militer ini
lalu menjabat Pangkowilhan II, kemudian KSAD. Sesudah menggantikan
Sumitro, sebagai Wakil Panglima ABRI, ia Menko Kesejahteraan Rakyat
(Kesra), sejak 1978.
Menjabat Menko Kesra, ia bersama Gubernur Soepardjo Rustam — kini
mendagri — membangun museum di Kalibatang, Semarang. Biayanya Rp 1,15
milyar. ”Di samping menyelamatkan, museum berfungsi memelihara budaya
nasional,” katanya. ”Warisan budaya di Jawa Tengah ini sangat
potensial.” Surono menyumbangkan 1.100 keris koleksinya sendiri untuk
mengisi museum itu. Berasal dari sekitar kota kelahirannya, Banyumas,
juga Bagelen, keris itu konon buatan abad ke-18.
Berdisiplin dan teliti, pada Maret 1985, ia tampil dalam rapat kerja
gubernur se-Indonesia. ”Pendidikan politik harus terus ditingkatkan,
untuk memantapkan demokrasi Pancasila,” katanya. Kepada para gubernur
ia mengingatkan masalah yang bisa mengganggu polkam. Misalnya, ”Bekas
tahanan G-30-S/PKI yang beraliran keras, kelompok ekstrem yang
berselubung agama, dan percaloan tanah yang menghambat pembangunan.”
Pemegang sejumlah bintang, tanda jasa, dan penghargaan dari dalam dan
luar negeri, ini Ketua Umum Dewan Harian Angkatan 45 periode
1984-1988. Ia terpilih dalam Musyawarah Besar Nasional VII di
Ujungpandang untuk masa jabatan kedua. Selain itu, ia juga Ketua Umum
Indonesian Wildlife Fund (IWF) — badan penghimpun dana guna
kelestarian alam. Di bidang olah raga, anggota Dewan Pembina Golkar
ini juga Ketua Dewan Pembina Induk Indonesia Karate-Do (Inkado),
periode 1985-1989. Dalam Musyawarah Olah Raga Nasional (Musornas) V ia
terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat, menggantikan Sri Sultan
Hamengkubuwono.
Selalu berpakaian rapi, Pria Berbusana Terbaik 1980 ini memiliki
suara yang berat dan serak-serak basah, tetapi jernih. ”Sebelum jadi
jenderal dan menteri, saya ini dalang,” katanya. Ayah saorang putri
ini ditinggal wafat istrinya, R.A. Winarni, pada 1980. Tiga tahun
kemudian, ia menikah dengan adik kandung Almarhumah, Ny. Suwarti,
janda R. Sumitro, bekas Pangdam VII/Diponegoro, yang meninggal pada
1978.

Berita Terkait

Komentar