Menko Polhukam

Sudomo

Oleh 23 Mar 1988 Mei 15th, 2019 No Comments
#KemenkoPolhukam 

Nama: Laksamana TNI (Purn) Sudomo
Lahir: Malang, 20 Sep 1926
Jabatan Penting:
Pangkopkamtib
Menteri Tenaga Kerja 19 Maret 1983 – 22 Maret 1988
Ketua DPA
Hobi:
Menyelam dan Golf
Organisasi:
Ketua Umum PGI
Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia
Menemukan Hidup Kembali
Mantan Pangkopkamtib di era Soeharto ini mengaku di usia tuanya merasa terlahir kembali atau
justru menemukan hidupnya kembali. Dia merasa lebih tenang dan khusyuk. ”Kalau orang lain
berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun,” kata Sudomo. Dia yang
pernah murtad, kembali lagi pada keyakinannya semula.
Bukan tanpa alasan bila penggemar olahraga golf ini berkata demikian. Dia mengaku hampir
sebagian besar usianya dilalui dengan gundah dan gelisah. Salah satu penyebabnya karena
sosok yang menghabiskan sebagian besar umurnya – 53 tahun di pemerintahan dengan berbagai
jabatan -sebagai umaro ini pernah murtad. Itu semua menjadi penyebab jauhnya ketenangan dari
hidupnya.
”Terus terang saja dan bukan rahasia umum, saya dulu kan murtad,” kata Sudomo sambil
tertawa. ”Dan celakanya semua itu saya lakukan tanpa pikir panjang dan memberi tahu orang
tua,” lanjutnya saat ditemui di kediamannya yang sejuk di Pondok Indah, Jakarta, beberapa
waktu lalu. Wajahnya berubah serius.
Seiring waktu, Sudomo pun merindukan ketenangan hati dan kembali pada keyakinannya
semula. ”Kasih sayang Allah pada hamba-Nya lebih luas daripada murka-Nya.” Sudomo
merasakan betul makna ayat itu. Waktu membawanya ke kota kelahirannya, Malang. Saat itu,
bertepatan 22 Agustus 1997, ia melihat Masjid Al Huda di kompleks Kostrad Malang. Hatinya
tersentuh. Diapun memutuskan untuk kembali.
”Itu peristiwa luar biasa. Nama masjid itu sendiri berarti petunjuk. Dan di situ saya mendapat
petunjuk. Mungkin ini hikmah dari doa orang tua saya yang selalu berdoa agar saya kembali,”
kenang Sudomo yang tampak lebih gemuk. Ia baru saja keliling Eropa sebulan penuh.
Peristiwa itu laiknya sebuah kelahiran bagi dirinya dan anugerah yang luar biasa dari Yang di
Atas. ”Saya sangat senang diberi kesempatan bertobat. Bayangkan kalau saya meninggal
sebelum bertobat bisa-bisa masuk neraka saya,” ujarnya.
Sebagai rasa syukur, tahun itu juga Sudomo menunaikan umrah pertamanya. Ibadah haji dia
lakukan tahun berikutnya. Sampai sekarang sudah lima kali ia berumrah. Ia mengaku punya
pengalaman aneh saat menjadi tamu Allah. Peristiwa tersebut dialami saat menunaikan ibadah
haji 1998 dan 2002. Ketika tawaf Sudomo ingin berada sedekat mungkin dekat Ka’bah. Ia pun
berdoa dan membaca Asmaul Husna. Tiba-tiba ia merasa Ka’bah sangat dekat dengan dirinya.
”Barisan orang yang sedang tawaf seperti terbuka begitu saja sampai-sampai ustadz saya
mengikuti dari belakang mendekati Ka’bah. Alhamdulillah,” kata Sudomo mengenang kejadian
itu. ”Doa di sana memang sangat mustajab,” lanjut Sudomo.
Setelah semua yang dilalui, Sudomo yang tetap rutin menyelam tiga bulan sekali, mengaku lebih
tenang dan bahagia. Shalat lima waktu pun selalu tepat waktu dijalankan. Ia melakukan shalat
Shubuh di Masjid Al Ihsan Kebayoran Baru tiap hari. Di situ ia berjumpa guru spiritualnya
Mawardi Labai.
Tentang hobi menyelamnya itu Sudomo mengaku membawanya semakin dekat dengan Allah.
”Saat kita di bawah, bersama dengan ikan warna-warni dan gugusan karang serta sinar matahari
yang menembus ke bawah, Allah terasa semakin dekat,” katanya puitis.
Kini sebagian besar waktunya praktis digunakan untuk mempelajari dan mendalami agama,
beribadah, beramal, serta sesekali berdakwah untuk kalangan terbatas. Sebuah yayasan, Husnul
Khotimah ia bangun pada 1998 untuk mewadahi semua kegiatan. Sebuah desa kecil di Bogor,
Cijayanti, menjadi ladang persemaian pertobatannya.
Dengan selera humor yang tak pernah kering, Sudomo mengatakan bahwa apa yang ia lakukan
kini tak lebih dari sebuah penanaman modal akhirat atau PMA. Semua kegiatan itu, menurutnya
memberikan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan materi yang belum pernah didapat
sebelumnya.
Terakhir, yang ingin dilakukan adalah menjadi ustadz. Saat ini apa yang dilakukan baru
membawa dirinya seorang ‘ulama’ kependekan dari usia lanjut makin agresif. Dia mengatakan
harus agresif dalam amal dan ibadah.
Manajemen Mutu
Sudomo selaku Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia, “setelah pencanangan
Konvensi Mutu Indonesia pada November 1991 tidak ada lagi kegiatan yang menyangkut mutu di
Indonesia”, padahal ada dua departemen yang bertugas tentang itu, yaitu Departemen
Perindustrian dan Tenaga Kerja. Namun kenyataannya yang aktif hanya Perhimpunan
Manajemen Mutu Indonesia. Atas hal demikian, Sudomo sangat menyayangkannya dan
mengatakan, “padahal saat sekarang kita harus segera beradaptasi dengan akselarasi
perubahan yang terjadi di dunia persaingan era globalisasi”.
Menurut Sudomo, “saat ini kita memerlukan pemimpin negara yang memiliki ciri Good
Governance, memiliki manajerial skill, panutan masyarakat banyak dan ambeg paramaarta”.
Sehingga dengan demikian menurutnya, Negara kita akan lebih cepat dapat menyesuaikan
dengan perubahan yang terjadi di dunia ini. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sumber: Republika Jumat, 05 Juli 2002

Berita Terkait

Komentar