POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

Simposium diminta Digelar di Daerah

By 20 Apr 2016 09:35Berita
IMG-20160419-WA0000

Simposium tragedi 1965 yang digelar pemerintah, merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam menelusuri sejarah kebangsaaannya. Dalam sesi tanya jawab, seorang pegiat HAM dari Palu, Nurlaela Lamasituju atau Ella meminta simposium serupa dapat digelar di semua daerah di Indonesia yang terdampak oleh tragedi tersebut.

Ella meminta hal itu, karena menurutnya tragedi 65 memiliki serangkaian peristiwa yang kejadiannya sangat berbeda-beda di seluruh Indonesia. Untuk itu, tidak dapat terangkum dalam dua hari saja dan digelar hanya di ibukota. “Setiap daerah memiliki dampak yang berbeda-beda” ujarnya.

Bukan hanya Ella, tapi sejumlah peserta simposium juga meminta hal serupa, agar cerita soal tragedi 65 dapat secara komperhensif didengarkan. Bahkan dalam penutup, secara resmi, permintaan ini dikemukakan sebagai poin rangkuman simposium. Mantan ajudan Soekarno yang juga anggota Wantimpres, Sidarto Danusubroto, mengatakan bahwa suasana kebebasan selama simposium diharapkan bisa dilakukan di daerah tanpa ada gangguan dari pihak manapun dan negara wajib untuk melindungi.

Masih menurut Sidarto, dialog semacam ini telah lebih dahulu digelar di daerah, namun difasilitasi oleh anak-anak muda dari NU. Pertemuan antara korban HAM dan keluarga NU terjadi di pesantren-pesantren di 35 kabupaten kota selama 5 tahun. Ia juga berharap agar forum semacam itu, ataupun simposium yang difasilitasi pemerintah dapat diteruskan untuk terus membantu penyelesaian masalah tragedi 65. “Forum-forum semacam ini yang harus kita rawat karena perjalanan panjang ini masih panjang” ujarnya pada penutupan Simposium Tragedi 65.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

Simposium diminta Digelar di Daerah