POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

SIAPA YANG MELANGGAR HAM

By 18 Feb 2016 12:02Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: R. Tullah
Date :: Rabu 08/24/2011 @ 02:15
Kasus kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, baik warga maupun aparat keamanan masih terus terjadi, bahkan terus berulang di wilayah Papua. Jika melihat kasus-kasus kekerasan yang terjadi, sepertinya memang ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan suasana tidak kondusif melalui isu sensitif di Papua. Di sisi lain, masyarakat Papua mengidap trauma masa lalu, sehingga rumor itu pun berubah menjadi rasa takut dan kekhawatiran yang berlebih. Kondisi ini, dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang diduga dari Tentara Pembebasan Nasional (TPN), yaitu sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk selalu mengganggu keamanan, utamanya menyerang anggota TNI yang bertugas di lapangan. Sekelompok orang bersenjata tersebut selalu berontak dan mengganggu kegiatan prajurit TNI di wilayah Papua. Aksi penghadangan yang dilakukannya kelompok tersebut seperti tidak ada henti-hentinya, seperti yang terjadi pada Senin 1 Agustus 2011. Dalam kasus ini, tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, tiga lainnya mengalami luka akibat senjata tajam.

Pada Selasa (2/3), Pratu Fana Suhandi  anggota Yonif 753 yang sedang melaksanakan program TNI Manunggal Masuk Desa tertembak di Tingginambut, bahkan  Helkopter TNI-AD jenis MI-17 yang terbang  dari Mulia Puncak Jaya menuju Wamena  untuk mengevakuasi Pratu Fana Suhandi juga tidak luput dari sasaran penembakan. Dua hari kemudian, Rabu (3/8), tiga warga sipil dan seorang anggota TNI tewas akibat ditembak orang tak dikenal.  Bahkan sebelumnya, pada 25 Mei  lalu, Sertu Kammaruzzaman tertembak di bagian kepala menembus ke pelipis saat melakukan pemantauan pasar di Distrik Illu Puncak Jaya.  Peristiwa lainnya dialami Pratu Kadek Widana, ia ditembak orang tak dikenal pada 5 Juli 2011. Selain itu,  ada Pratu Heiberde  yang menjadi korban penembakan  pada 12 Juli 2011 di Puncak Jaya. Bahkan dalam kasus terakhir, seorang perwira pertama Kodam XVII Cendrawasih, Kapten Tasman M. Nur, Selasa (28/8), tewas setelah dianiyana oleh orang tidak dikenal.

Dalam berbagai kasus kekerasan yang dialami oleh anggota TNI tersebut berbagai pihak, termasuk media masa sepertinya  tutup mata dalam melihat realita yang terjadi di Papua, bahkan sebagian media kurang peduli dalam mempublikasikan berita tentang kematian anggota TNI ke publik. Lain halnya bila ada oknum TNI yang terindikasi melakukan pelanggaran di Papua, semua media masa dengan gencarnya mengekspos semua kejadian yang terjadi tanpa tedeng aling. Padahan berita tersebut belum tentu objektif dan diragukan kebenarannya.  Sebagai anak bangsa tentunya sangat prihatin atas semakin banyaknya anggota TNI yang tewas oleh sekelompok orang tidak dikenal di Papua ini.

Jika melihat kasus kekerasan yang telah mengakibatkan banyaknya korban jiwa di Papua, tentu ini termasuk pelanggaran terhadap kemanusiaan yang tidak dapat ditolelir. Sebab berulang kalinya terjadi kasus kekerasan merupakan salah satu indikasi telah terjadinya pelanggaran berat HAM. Lagi-lagi pihak TNI yang dituduh berusaha merekayasa kekacauan di Papua dengan membunuh warga sipil.  Yang menjadi pertanyaan, siapa sebenarnya yang telah melanggar HAM ? Namun sayangnya tidak ada satupun pihak/lemaga yang peduli terhadap pelagaran berat HAM yang telah terjadinya di wilayah Papua, termasuk tewasnya anggota TNI oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Bahkan Komnas HAM sampai saat belum mengeluarkan sikapnya terhadap semakin maraknya kasus kekerasan di Papua yang diduga telah dilakukan oleh OPM. Padahal sebenarnya Komnas HAM dapat menyatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Papua merupakan pelanggaran berat. Hal ini penting sebagai bukti kepedulian terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM sebenarnya yang terjadi di Papua.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

SIAPA YANG MELANGGAR HAM