POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

RANTING-RANTING NKRI. Surat terbuka untuk saudara sebangsaku di Papua

By 18 Feb 2016 12:28Opini
featured-pancasila-1600×600

Author :: Bungko Dewa
Date :: Rabu 11/30/2011 @ 07:59
Saudaraku, Philips Turandy…!

Rasanya baru sebulan lebih aku tinggalkan tanah Papua, tapi kerinduanku untuk berkumpul mulai menagih. Aku teringat bagaimana kita makan papeda bersama, sementara saudara-saudara kita yang lain menyaksikan penuh selera, padahal di hadapannya telah tersedia nasi panas dan ikan gurame goreng. Mereka tentu bertanya-tanya bagaimana nikmatnya papeda, tetapi mereka tidak bertanya dan kitapun tidak menjelaskan. “Mereka seharusnya mencoba, agar bisa merasa,” itu kata-katamu.

Aku juga teringat bagaimana kita menikmati air kata-kata (bir kaleng) di terasmu. Matamu merah, wajah hitammu juga mulai memerah dan kau masih berusaha membuka kaleng lainnya. Aku menahan tanganmu dan kita saling tatap. “Kita minum untuk bersenang-senang. Nikmatilah sekedarnya, jangan sampai kita mabuk dibuatnya. Bagaimana kita bisa menikmati kesenangan ini kalau kita mabuk,” itu kata-kataku. Terimakasih kasih kau mau mendengar. Kita saudara sebangsa memang wajib untuk saling mengingatkan. Beberapa kali hal itu sudah kita lakukan bersama.

Saudaraku….!

Tetaplah fokus membangun kehidupanmu, menyekolahkan anak-anakmu. Tuhan telah memberikan hamparan bumi ini untukmu dan untuk kita semua. Jangan biarkan dirimu larut dalam kegalauan karena kehadiran para pendatang. Mereka adalah saudaramu yang dapat kau jadikan partner dan guru. Aku ingat daerah asalku, suatu perkampungan di jazirah Sulawesi Selatan. Suatu kabupaten yang dikarunia berlimpah hasil bumi. Masyarakatnya hidup berkecukupan sandang dan pangan. Alam begitu memanjakan masyarakatnya sehingga membuat mereka malas bekerja. Namun seiring berjalannya waktu, para pendatang masuk dan mengajarkan kami bagaimana mengelola hasil bumi sehingga dapat memberi nilai tambah, bukan hanya sekedar untuk konsumsi masyarakat. Para pendatang pula yang mengajarkan kami bagaimana cara berniaga, bagaimana menjadikan rotan tidak hanya sekedar tali pengikat tetapi juga menjadi furniture, bagaimana menjadikan tanah liat menjadi batu bata, dan bagaimana mengambil bagian penting dalam setiap geliat pembangunan.

Saudaraku….!

Ingatlah….! Negara kita begitu besar. Jangan pula kita kecilkan dengan membentuk negara dalan negara. Pace tentu masih ingat waktu kita duduk minum kopi di bawah pohon rindang di depan kantor Gubernur Papua. Pohon besar itu memberikan kita perlindungan dari teriknya mentari.

“lihatlah akar-akarnya begitu besar tampak di permukaan tanah. Coba kita bayangkan bagaimana akar-akar pohon itu mencengkeram dan merambati tanah untuk mencari air dan makanan, sehingga batangnya dapat kokoh berdiri dan tinggi menjulang. Dari batang yang kokoh tumbuh banyak cabang. Dari setiap cabangnya tumbuh cabang-cabang lainnya yang setiap saat menjadi semakin kuat. Dari setiap cabangnya tumbuh ranting-ranting. Dari ranting-ranting tumbuh ranting-ranting kecil lainnya. Dari ranting-ranting kecil ini tumbuhlah daun yang rimbun yang memberikan kita perlindungan dan keteduhan. Ranting-ranting itu ada yang bertempat di bawah, di tengah dan di atas sehingga daun yang dihasilkan berlapis-lapis. Ranting-ranting itu ada yang berdekatan bahkan bersinggungan, tetapi lebih banyak ranting-ranting yang saling berjauhan dan menjauh. Bagaimana mendekatkan dan menyatukan ranting-ranting itu. ?”

“Ranting-ranting itu sudah menyatu dalam pohon,” jawabmu ketika itu.

“Jawaban sekenanya tapi mengena. Betul saudaraku. Ranting-ranting itu punya cara yang sederhana untuk dekat dan menyatu. Setiap ranting merasa sadar dan sadar merasa bahwa mereka berasal dari batang pohon yang sama.”

“Papua ini berbeda, Daeng”

Aku suka setiap kali kau menyapa dengan sebutan, Daeng sebagaimana aku bahagia menyapamu dengan, Pace. “Kita berbeda setiap kali berpikir berbeda. Kita akan sama setiap kali kita berpikir sama. Saudara kembar selalu menemukan perbedaan jika ia mencari-cari perbedaannya. Sementara kita berdua menemukan banyak persamaan. Ingatlah apa kata Ernest Renant, bangsa hakikatnya lahir dari masyarakat yang memiliki kesamaan di banyak hal, dan melupakan banyak hal yang berbeda. Masyarat Indonesia lahir dari dua entitas besar, yaitu keberagaman dan keberagamaan. Wajar jika ada kecenderungan untuk saling menonjolkan identitas masing-masing. Asalkan jangan menganggap diri paling berharga dan yang lainnya menjadi berbeda”

Saudaraku…Philips Turandy

Bukankah kita sudah sepakat bahwa pilihannya hanya ada dua, kita ingin beda atau kita ingin sama. Kalau kita ingin beda, maka kita akan mengingkari fakta-fakta tentang kesamaan kita. Kalau kita ingin sama, marilah kita lupakan hal-hal kecil yang berbeda.

Lihatlah bagaimana saudara-saudara kita yang berusaha mematahkan ranting-ranting. Mereka coba mengumpulkan dan menyatukan ranting-ranting patah dalam ikatan yang mereka labeli dengan berbagai argumen. Waktu berjalan, waktu memberi pelajaran, dan waktu membuktikan bahwa ranting-ranting yang sengaja mereka patahkan itu lama kelamaan hanya akan menjadi ranting-ranting kering yang menjadi kerontang dan lapuk dimakan tanah. Sejarah akan terus bergerak, dan sipematah ranting masih akan terus bermunculan. Inilah mungkin dinamika berbangsa yang harus kita lalui. Kita boleh saja bersedih dengan kondisi seperti itu, tapi percayalah bangsa yang besar ini akan merangkul warganya, dan mereka yang keliru akan menemukan jalan kembali yang terbaik. Sementara kita yang tidak punya kuasa, cukuplah berdoa agar ranting-ranting NKRI tetap kokoh pada cabang dan batangnya.

Saudaraku…..!

Jika saudara-saudaramu menyerukan “merdeka”. Sambutlah seruan ini dengan mengatakan, “Setiap hari kami merayakan kemerdekaan ini dengan bersyukur. Kami merdeka untuk berbicara, kami merdeka bekerja dan mencari nafkah, kami merdeka untuk mengecap pendidikan, kami merdeka berinteraksi dengan saudara-saudara kami dari berbagai daerah, kami merdeka untuk bertempat tinggal dimana saja di wilayah Indonesia ini, kami merdeka menduduki jabatan penting dalam negara ini melalui proses demokrasi yang disepakati bersama.”

Saudaraku…Philips Turandy…!

Selalulah kabarkan diri dan lingkunganmu agar kami juga mengabarkan banyak hal di sini.

 

Hormat kasih.

Bungko Dewa

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *

RANTING-RANTING NKRI. Surat terbuka untuk saudara sebangsaku di Papua