POLHUKAM - Kementerian Koordinator Bidang Polhukam RI

Djoko Suyanto 2009-2014

KIBII_Djoko_Suyanto

Nama: Marsekal TNI AU Djoko Suyanto, S.IP
Lahir: Madiun, Jawa Timur, 2 Desember 1950
Jabatan:
Panglima TNI (Dilantik 13/2/2006)
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Mantan Panglima TNI
Jakarta 13/02/06: Presiden Yudhoyono melantik Marsekal TNI Djoko
Suyanto menjadi Panglima TNI menggantikan Jend Endriartono Sutarto
di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2006). Selain itu, Presiden juga
melantik Marsdya TNI Herman Prayitno menjadi Kepala Staf TNI AU
menggantikan Djoko Suyanto. Kemudian ia digantikan Jend. Djoko Santoso,
sebagai Panglima TNI, Jumat (28/12/2007).
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Komisi I Setuju Jadi Panglima TNI
Jakarta 02/02/06: Marsekal TNI Djoko Suyanto disetujui secara aklamasi oleh
Komisi I DPR-RI menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI AD
Endriartono Sutarto. Komisi I menyatakan Djoko lolos dalam uji kelayakan
dan kepatutan yang cukup alot dan panjang. Dengan persetujuan Komisi I ini,
Djoko hanya menunggu pengesahan di Rapat Paripurna DPR untuk menjabat
Panglima TNI.
Djoko Suyanto
Perwira AU Pertama Jadi Panglima TNI
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Djoko Suyanto telah diajukan
Presiden SBY kepada DPR sebagai calon tunggal Panglima Tentara Nasional
Indonesia (TNI) menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang masa
jabatannya sudah tiga kali diperpanjang. Kepastian pencalonan Marsekal
Djoko Suyanto tertuang dalam surat Presiden kepada Ketua DPR yang dikirim
Minggu (15/1) malam sekitar pukul 22.30 WIB.
Djoko Suyanto
Calon Tunggal
Panglima TNI
Kepala Staf Angkatan Udara
(KSAU), Marsekal Djoko Suyanto
telah diajukan Presiden SBY kepada
DPR sebagai calon tunggal Panglima
Tentara Nasional Indonesia (TNI)
menggantikan Jenderal TNI
Endriartono Sutarto yang masa
jabatannya sudah tiga kali
diperpanjang. Kepastian pencalonan
Marsekal Djoko Suyanto tertuang
dalam surat Presiden kepada Ketua
DPR yang dikirim Minggu (15/1)
malam sekitar pukul 22.30 WIB.
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Terima Medali dan
Bintang
Dispenau, 9/2/2006: Kepala Staf
Angkatan Udara (Kasau) Marsekal
TNI Djoko Suyanto dianugerahi
Medali Pingat Jasa Gemilang dari
Menteri Pertahanan Republik
Singapura Mr.Theo Chee Hean, pada
saat Kasau melaksanakan kunjungan
diakhir masa tugasnya ke Singapura
atas undangan Pemerintah
Singapura, Rabu (8/2/06).
Marsekal Djoko Suyanto, Sosok Low Profile
Seorang remaja yang tinggal di Jl. Srindit, Sleko, Madiun, Jawa Tengah bercita-cita ingin jadi
prajurit TNI Angkatan Udara. Ia adalah putra Bapak Suparno, anggota TNI AU yang bertugas di
Lanud Iswahjudi dengan pangkat terakhir mayor. Remaja itu adalah Djoko Suyanto. Sebagai
anak ketiga dari tujuh bersaudara, Djoko adalah satu-satunya yang mengikuti jejak ayahnya
menjadi prajurit TNI AU.
Djoko Suyanto sejak remaja sudah menunjukkan sifat penyabar, ramah, low profile dan punya
kesertiakawanan sosial yang tinggi. Sebagai contoh, kalau ada kawan dekat sesama siswa SMA
tidak masuk, ia mau meminjamkan catatan pelajaran di sekolah. Bahkan adakalanya mau
membantu mencatatkan baik kepada kawan laki-laki maupun perempuan.
Ijazah tertinggal
Begitu besarnya keinginan menjadi prajurit TNI AU, lulus SMAN 2 Madiun Djoko langsung
pergi ke Lanud Adisutjipto, Yohyakarta untuk melamar menjadi Taruna TNI Angkatan Udara.
Suatu ketika setelah selesai ujian, ketahuan bahwa ijazah SMA-nya ketinggalan di rumahnya.
Seketika itu juga oleh salah satu tim pengujinya, Djoko disuruh pulang ke Madiun untuk ambil
Ijazah.
“Saya langsung menyuruh Djoko untuk segera mengambil ijazah di rumahnya, di Madiun. Sebab
saat itu tinggal ijazahnya yang belum dikumpulkan. Beberapa tahun kemudian setelah pangkat
bintang menempel di pundaknya, pernah Marsekal Djoko Suyanto ketemu saya. Ia mengatakan
bahwa ia tidak pernah lupa soal ijazah yang ketinggalan itu. Djoko bilang, kalau ijazahnya tidak
diambil sesuai perintah Mas Darodji, maka ia tidak akan pernah menjadi marsekal,” demikian
tutur Lettu Pur. M. Darodji Zamroni kepada penulis, Rabu (18/1) sore hari.
Darodji adalah mantan alumni Nenggala India jurusan Foto Mechanic angkatan II di Tambaram,
Madras. Ia satu angkatan dengan penulis yang sekolahnya di Jalahalli East, Bangalore, tahun
1960 -1962.
Selama bertugas, perwira penerbang Djoko Suyanto sering bertemu dengan Darodji dalam
skadron atau satuan lainnya. Yang tentu saja Darodji kemudian malah menjadi anak buahnya.
Salah satu contoh, waktu Letkol Pnb Djoko Suyanto sebagai Komandan Skadron Udara F-5,
Darodji pernah memodifikasi dan memasang kamera pada pesawat tersebut.
Kepedulian tinggi
Marsekal Djoko Suyanto punya kepedulian dan perhatian besar terhadap para Alumni Nenggala
India. Nenggala India adalah suatu pendidikan calon bintara teknik udara di India. Waktu itu
sebanyak 1.690 siswa calon bintara teknik TNI AU dikirim secara bergelombang dari tahun
1960-1962 ke Bangalore dan Madras, India.
Banyak dukungan moril dan semangat yang diberikan Djoko Suyanto kepada para alumni
Nenggala yang tergabung dalam Paguyuban Alumni Nenggala India. Katika Marsekal Muda
Djoko Suyanto menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan TNI AU (Kodikau), ia
menandatangani Monumen Alumni Nenggala India di Jakarta dan juga meresmikan monumen
tersebut di Lanud Adisumarmo.
Di depan sekitar 500 orang alumni Nenggala dan keluarganya, Marsekal Djoko Suyanto
menyuruh penulis untuk menulis Buku Pengabdian Alumni Neggara India. Usai meresmikan
monumen pada acara makan siang, penulis melantunkan lagu gending dari Campur Sari berjudul
Bowo Ngidam Sari. Usai penulis menyanyi, Marsekal Djoko Suyanto pegang microphone sambil
berkata, ” Saya tidak mau kalah sama Pak Mardjo. Saya juga akan menyanyikan lagu dari
Campur Sari yang isinya mengandung nasehat agat orang itu harus jujur dan jangan bohong.”
Pada saat menjabat Asisten Operasi Kasau, Marsekal Djoko Suyanto menerima Ketua PANI Drs.
Sumardjo Hidayat, SE, penulis dan pengurus PANI lainnya. Saat itu kami bermaksud
mengajukan konsep buku Pengabdian Alumni Nenggala India. Marsekal Djoko menyetujui
rencana penerbitan dan sekaligus akan meluncurkan buku tersebut.
Buku Pengabdian Alumni Neggala India diluncurkan bertepatan dengan acara open house tangal
9 April 2005. Saat itu Djoko Suyanto sudah menjadi Kasau. Marsekal Djoko Suyanto juga
kemudian membeli sekitar 500 ekslempar buku tersebut untuk dibagikan kepada para pejabat
TNI AU.
Kenangan di Grogak
Penulis juga mempunyai kenangan dengan Marsekal Djoko Suyanto. Salah satu di antaranya
adalah pada upacara pembukaan Buleleng Fly In 2001 di airstrip Grogak, Buleleng, Bali. Di
panggung tempat para VIP duduk, Marsekal Muda Djoko Suyanto yang saat itu menjabat
sebagai Panglima KOOPSAU II memanggil penulis dengan kode melambaikan tangan.
“Apa kabar Pak Mardjo, masih menulis dan memotret?” katanya pelan begitu penulis telah
berada di dekatnya. “Masih Marsekal dan sebagai reporter di majalah Angkasa, saya masih aktif
menulis,” jawab penulis. Lalu beliau berkata lagi sambil melirik kepada Meneteri Kebudayaan
dan Pariwisata saat itu, Bpk I Gede Ardika. “Pak Menteri sejak saya pangkat letnan satu saya
sering difoto oleh Pak Mardjo ini, sampai sekarang lho. Saya bintang dua dia tetap masih
memotret di mana saja ketemu,” ujar Djoko Suyanto.
Marsekal Madya Tamtama Adi yang kebetulan duduk di sebelah kiri Menbudpar saat itu turut
menimpali, “Memang di mana-mana saya ketemu Pak Mardjo. Waktu di Timtim dia sudah
memotret, sampai sekarang saya masih dipotret di mana saja ketemu dengan Pak Mardjo,” ujar
Marsekal Tamtama Adi.
Kini, setelah terbetik kabar bahwa Komisi I DPR RI telah menyetujui pengajuan Marsekal Djoko
Suyanto sebagai calon Panglima TNI, lega rasanya hati ini. Sebagai “teman” beliau sejak
berpangkat Letnan I, saya boleh mengatakan bangga. Sosok yang ramah dan low profile itu
ternyata dipercaya memimpin Tentara Nasional Indonesia.
Apalagi, ini adalah sejarah. Bahwa untuk kali pertama, seorang putra terbaik TNI AU diberi
kepercayaan untuk memimpin TNI. Bagi Djoko kecil, menjadi Panglima TNI mungkin tak
ternah terimpikan. Djoko kecil yang sederhana hanya punya satu cita-cita yang sederhana pula,
yakni menjadi prajurit TNI AU yang profesional. (Sumardjo)